Makalah Peran Guru dalam Pembelajaran

BERBAGAI PERAN GURU DALAM PEMBELAJARAN
MAKALAH
Disusun sebagai salah satu syarat guna memperoleh nilai akhir mata kuliah profesi keguruan

Hasil gambar untuk unpam logo

Disusun oleh: Kelompok III
Albertus Reynaldi
Indriyani
Khairul Anam
Nanang Suryana
Siti Munawaroh



PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PAMULANG
2016/2017


KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama ALLAH SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, penulis panjatkan puja dan puji syukur kehadirat-NYA yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, serta inayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Profesi Keguruan mengenai “Berbagai peran guru dalam pembelajaran” ini dengan lancar, shalawat serta salam kami panjatkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW yang menjauhkan kita dari jalan kegelapan.
Makalah yang berjudul “Berbagai Peran Guru Dalam Pembelajaran” disusun untuk memenuhi salah satu tugas kelompok Mata Kuliah Profesi Keguruan jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pamulang.
Adapun makalah Profesi Keguruan ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar penyusunan makalah. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan banyak terima kasih kepada :
1.     Dosen Profesi Keguruan Ibu Ichwani Siti Utami,  yang mana bersedia membimbing kami dalam penyusunan makalah.
2.    Rekan-rekan kelompok 3 yang mau bekerjasama dalam menyelesaikan makalah.
3.    Serta semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Dengan ini penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini jauh dari kesempurnaan, karena kesempurnaan semata hanya milik ALLAH SWT, untuk itu segala kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami nantikan.
Pamulang, Maret 2017


Penulis




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................................... 1
DAFTAR ISI.......................................................................................................................... 2   
BAB I PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang...................................................................................................... 3
B.    Rumusan Masalah.................................................................................................. 4
C.    Tujuan Penulisan.................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN
A.   Peran guru dalam pembelajaran........................................................................ 5
B.    Peran dan fungsi guru.......................................................................................... 6
1.     Peran guru dalam memahami siswa sebagai dasar
pembelajaran................................................................................................... 7
2.    Peran guru dalam pengembangan rancangan pembelajaran................. 10
3.    Peran guru dalam pelaksanaan pembelajaran dan manajemen
Kelas................................................................................................................ 16
4.    Peran guru dalam evaluasi........................................................................... 19

BAB III PENUTUP
A.   Kesimpulan........................................................................................................... 26
B.    Saran.................................................................................................................... 27
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................ 28


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Istilah guru pada saat ini mengalami penciutan makna. Guru adalah orang yang mengajar di sekolah. Orang yang bertindak seperti guru seandainya di berada di suatu lembaga kursus atau pelatihan tidak disebut guru, tetapi tutor atau pelatih. Padahal mereka itu tetap saja bertindak seperti guru. Mengajarkan hal-hal baru pada peserta didik.
Terlepas dari penciutan makna, peran guru dari dulu sampai sekarang tetap sangat diperlukan. Dialah yang membantu manusia untuk menemukan siapa dirinya, ke mana manusia akan pergi dan apa yang harus manusia lakukan di dunia. Manusia adalah makhluk lemah, yang dalam perkembangannya memerlukan bantuan orang lain, sejak lahir sampai meninggal. Orang tua mendaftarkan anaknya ke sekolah dengan harapan guru dapat mendidiknya menjadi manusia yang dapat berkembang optimal. Minat, bakat, kemampuan, dan potensi-potensi yang dimiliki peserta didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru. Dalam kaitan ini guru perlu memperhatikan peserta didik secara individu, karena antara satu perserta didik dengan yang lain memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Mungkin kita masih ingat ketika masih duduk di kelas I SD, gurulah yang pertama kali membantu memegang pensil untuk menulis, ia memegang satu persatu tangan siswanya dan membantu menulis secara benar. Guru pula yang memberi dorongan agar peserta didik berani berbuat benar, dan membiasakan mereka untuk bertanggungjawab terhadap setiap perbuatannya. Guru juga bertindak bagai pembantu ketika ada peserta didik yang buang air kecil, atau muntah di kelas, bahkan ketika ada yang buang air besar di celana. Guru-lah yang menggendong peserta didik ketika jatuh atau berkelahi dengan temannya, menjadi perawat, dan lain-lain yang sangat menuntut kesabaran, kreatifitas dan profesionalisme.
Memahami uraian di atas, betapa besar jasa guru dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan para peserta didik. Mereka memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam membentuk kepribadian anak, guna menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM), serta mensejahterakan masyarakat, kemajuan Negara dan bangsa.
                       
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa peran dan fungsi Guru?
2.      Bagaimana peran Guru dalam Pendidikan?
3.      Bagaimana peran Guru dalam Pembelajaran?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan ini antara lain :
1.   Untuk melengkapi tugas mata kuliah profesi keguruan;
2.   Mahasiswa mengetahui apa saja peran guru dalam proses belajar mengajar;
3.   Mahasiswa mampu memahami apa saja keterampilan yang harus dimiliki seorang guru;
4.   Mahasiswa dapat mengetahui kompetensi professional seorang guru yang telah diatur dalam UUD.







BAB II

PEMBAHASAN

A.  Peran guru dalam pembelajaran
Menurut Undang-undang Republik Indonesia Tentang Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003 Bab 1 Pasal 1 ayat 5 menjelaskan bahwa tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Sedangkan menurut ayat 6, pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instructor, fasilitator dan sebutan lainnya dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan.
Guru menurut UU no. 14 tahun 2005 “adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.”
Sehubungan dengan fungsinya sebagai “pengajar”, “pendidik”, dan “pembimbing”, maka diperlukan  adanya berbagai peranan pada diri guru. Peranan  guru ini akan senantiasa menggambarkan pola tingkah laku yang diharapkan dalam berbagai interaksinya, baik dengan siswa (yang terutama), sesama guru, maupun mengajar, dapat dipandang sebagai sentral bagi peranannya. Sebab baik disadari atau tidak bahwa sebagian dari waktu dan perhatian guru banyak dicurahkan untuk menggarap proses belajar mengajar dan berinteraksi dengan siswanya.
Seorang Guru harus berpacu dalam pembelajaran, dengan memberikan kemudahan belajar bagi seluruh peserta didik, agar dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Dalam hal ini, guru harus kreatif, professional dan menyenangkan, dengan memposisikan diri sebagai :
1.     Orang tua, yang penuh kasih sayang pada peserta didiknya.
2.    Teman, tempat mengadu dan mengutarakan perasaan bagi para peserta didik.
3.    Fasilitator, yang selalu siap memberikan kemudahan, dan melayani peserta didik sesuai minat, kemampuan dan bakatnya.
4.    Memberikan sumbangan pemikiran kepada orang tua untuk dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi anak dan memberikan saran pemecahannya.
5.    Memupuk rasa percaya diri, berani dan bertanggung jawab.
6.    Membiasakan peserta didik untuk saling berhubungan dengan orang lain secara wajar.
7.    Mengembangkan proses sosialisasi yang wajar antar peserta didik, orang lain, dan lingkungannya.
8.    Mengembangkan kreativitas.
9.    Menjadi pembantu ketika diperlukan.
B.   Peran dan fungsi guru
Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Karena proses belajar mengajar mengandung serangkaian perbuatan pendidik/guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar. Interaksi dalam peristiwa belajar mengajar ini memiliki arti yang lebih luas, tidak sekedar hubungan antara guru dengan siswa, tetapi berupa interaksi edukatif. Dalam hal ini bukan hanya penyampaian pelajaran, melainkan menanamkan sikap dan nilai pada diri siswa yang sedang belajar.

Peran guru dalam proses belajar mengajar tidak hanya tampil lagi sebagai pengajar (teacher), seperti fungsinya yang menonjol selama ini, melainkan beralih sebagai pelatih (coach), pembimbing (counselor), dan manajer belajar (learning manager). Hal ini sudah sesuai dengan fungsi dari peran guru masa depan. Dimana sebagai pelatih, guru akan berperan mendorong siswanya untuk menguasai alat belajar, memotivasi siswa untuk bekerja keras dan mencapai prestasi setinggi-tingginya.
1.  Peran guru dalam memahami siswa sebagai dasar pembelajaran.
Perkembangan sering dibedakan dari pertumbuhan. Pertumbuhan biasanya lebih merujuk kepada perubahan aspek fisik ( biologis ).Perkembangan merujuk kepada perubahan yang sistematis yang terjadi sepanjang siklus kehidupan manusia. Kata Sistematis dalam pengertian perkembangan mengandung implikasi bahwa perubahan yang bersifat perkembangan adalah perubahan yang beraturan atau terpola megikuti tahap atau sekuensi tertentu. Perkembangan adalah Proses yang kompleks karena perkembangan merupakan hasil dari berbagai proses biologis, kognitif, sosial, moral.
Dalam pandangan lama, Para Ahli membagi konsentrasi studi tentang perkembangan anak ke dalam :
a.    Pertumbuhan dan Perkembangan Fisik yang mencakup perubahan badaniah dan ketrampilan motorik;
b.    Perkembangan aspek kognitif yang mencakup persepsi, bahasa, belajar dan berpikir;
c.    Perkembangan Psikososial yang mencakup perkembangan emosi, kepribadian, dan hubungan antar pribadi.
Dalam Pandangan Mutakhir pembagian konsentrasi itu tidak tepat dan artifisial ( dibuat-buat ). Karena bagaimanapun juga perkembangan dalam aspek satu akan mempengaruhi aspek yang lainnya. Pandangan Mutakhir ini disebut Pandangan Holistis yang melihat manusia sebagai makhluk biologis, kognitif, sosial, dan makhluk Tuhan dimana perubahan dalam satu aspek akan bergantung kepada dan mempengaruhi perubahan / perkembangan aspek lain.
Perspektif Holistis merupakan keterpaduan pandangan tentang proses perkembangan yang menekankan pentingnya interaksi antara perkembangan fisik, mental, sosial, emosi, dan moral.
Perkembangan dapat dilihat tidak hanya sebagai hasil Interkasi proses biologis, kognitif, dan sosial melainkan juga sebagai hasil interaksi kematanan dan pengalaman. Kematangan merujuk kepada perubahan yang terjadi sebagai hasil pertumbuhan fisik atau perubahan biologis daripada sebagai hasil pengalaman.
Kemampuan untuk belajar berjalan, berbicara dan buang air merupakan perkembangan karena hasil kematangan. Perilaku yang dihasilkan karena kematangan disebut perilaku PILOGENETIK. Perilaku yang diperoleh karena pengalaman ini disebut perilaku OTOGENETIK. Kombinasi antara faktor kematangan dan pengalaman akan menghasilkan kesepakatan belajar.
Keragaman individual siswa harus menjadi acuan bagi guru dalam melaksanakan proses pembejaran. Satu hal yang dapat dilakukan untuk mengakomodasi hal tersebut adalah mencoba memvariasikan metode pembelajaran yang digunakan
Pola dasar interaksi guru-siswa di sekolah terwujud dalam bentuk guru merespon kebutuhan siswa dalam suasana hangat dan menumbuhkan kesan akan pemahaman orang dewasa terhadap anak.
Peran guru dalam memahami peserta didik sangatlah berperan dalam proses pembelajaran. Diantaranya yaitu :
a.    Mengembangkan potensi peserta didik
Dengan guru dapat memahami peserta didik, guru dapat dengan mudah mengembangkan potensi – potensi peserta didiknya yang tependam. Sehingga sebagai guru, guru dapat memunculkan bakat –bakat baru yang dimiliki oleh peserta didik yang belum pernah dieksplor sebelumnya.
b.    Mudah melakukan pendekatan pengajaran
Seorang guru yang telah dapat memahami karakter peserta didiknya masing – masing akan lebih mudah dalam melakukan proses pembelajaran. Karena, guru yang sudah mengerti betul apa yang dibutuhkan atau yang di inginkan oleh peserta didiknya. Sehingga, dalam proses pembelajaran guru dapat menggunakan pendekatan pengajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik. Dengan begitu proses pembelajaran tercapai dengan maksimal.
Guru perlu memahami karakteristik peserta didik sehingga mudah melaksanakan interaksi edukatif. Dalam mengenal dan memahami peserta didik, guru hendaknya dibekali dengan Ilmu Psikologi Pendidikan, Ilmu Psikologi Anak dan Ilmu Psikologi Perkembangan. Pada ketiga Ilmu tersebut terdapat konsep dasar tentang perkembangan kejiwaan peserta didik yang sangat membantu seorang guru.
Seorang guru juga harus dapat berperan sebagai Psikolog, yang dapat mendidik dan membimbing peserta didiknya dengan benar, memotivasi dan memberi sugesti yang tepat, serta memberikan solusi yang tuntas dalam menyelesaikan masalah anak didik dengan memperhatikan karakter dan kejiwaan peserta didiknya. Guru juga seharusnya mampu berperan menjadi seorang dokter yang dapat memberikan terapi dan obat pada pasiennya sesuai dengan diagnosanya. Jika salah diagnosa maka salah juga terapi dan obat yang diberikan sehingga penyakitnya bukannya sembuh tetapi sebaliknya semakin parah. Demikian juga guru dalam menyelesaikan masalah anak, harus mengetahui akar masalah sehingga dapat menentukan terapi dan solusi yang tepat dalam menyelesaikan masalah tersebut.
Mengenal dan mememahami peserta didik dapat dilakukan dengan cara memperhatikan dan menganalisa tutur kata (cara bicara ), sikap dan prilaku atau perbuatan anak didik, karena dari tiga apek di atas setiap orang (anak didik ) mengekspresikan apa yang ada dalam dirinya (karakter atau jiwa ). Untuk itu seorang guru harus secara seksama dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan peserta didik dalam setiap aktivitas pendidikan.

2.  Peran guru dalam pengembangan rancangan pembelajaran.
Rancangan Pembelajaran dapat dianalogikan dengan rancangan strategi permainan suatu tim. Perancang pembelajaran kelas yang baik, mengetahui kelemahan dan kekuatan siswanya dan dia tahu tantangan yang terkandung dalam kurikulum. Dia memiliki ragam strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk membangkitkan kekuatan siswa yang dapat mengurangi kelemahannya, serta merancang dan mengelola kegiatan pembelajaran yang mendorong siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran. Dan karena hampir semua pembelajaran itu berlangsung dalam kelompok besar, maka perancang pembelajaran perlu memiliki strategi menyeluruh yang membantu keseluruhan kelas mengkoordinasi kegiatannya. Dalam hal ini guru berperan sebagai perancang pembelajaran kelas. Seorang guru adalah seorang sutradara, dan aktor yang memainkan jalan cerita, tetapi juga sekaligus sebagai penonton karena dia harus mengamati apa yang terjadi dalam proses tersebut. Ada tiga hal pokok yang akan dibicarakan dalam kegiatan belajar ini yaitu:
1)  Hakikat proses pembelajaran
Proses pembelajaran sebagai proses implementasi kurikulum, menuntut peran guru untuk mengartikulasikan kurikulum/bahan ajar serta mengembangkan dan mengimplementasikan program-program pembelajaran dalam suatu tindakan yang akurat dan adekuat. Peran ini hanya mungkin dilakukan jika guru memahami betul tujuan dan isi kurikulum serta segala perangkatnya untuk mewujudakan proses pembelajaran yang optimal.
Istilah pembelajaran bukanlah hal yang baru dikenal bahkan mungkin kita tidak hanya mengenal istilah itu melainkan pernah melakukannya.

2)  Prosedur pengembangan rancangan
Kegiatan dalam menyusun rancangan pembelajaran ini akan mencakup:
a.  Analisis kurikulum,
Secara fisik, kurikulum dituangkan dalam suatu dokumen yang pada intinya menggambarkan bahan ajar yang harus diajarkan dalam tingkatan kelas dan kurun waktu tertentu. Kurikulum dalam bentuk dokumen semacam ini merupakan kurikulum ideal atau kurikulum yang diharapkan (ideal of expected curriculum).
Di dalam praktek seorang guru dituntut untuk mengartikulasikan kurikulum kedalam ragam dan rentang pengalaman belajar peserta didik. Artikulasi dan implementasi kurikulum yang ideal tadi akan bersifa kontekstual dan bergantung kepada kondisi objektif guru maupun peserta didik. Oleh karena itu, sangat mungkin apa yang dilaksanakan dalam praktek tidak sepenuhnya mewujudkan hal-hal yang terkandung dalam kurikulum tersebut. Dengan kata lain kurikulum yang terlaksana (implemented curriculum) tidak selalu identik dengan kurikulum ideal.
Persoalan yang muncul ialah bagaimana agar kurikulum yang terlaksana tadi tidak menyimpang dari kurikulum yang ideal. Dalam hal inilah seorang guru perlu melakukan analisis kurikulum yang dimaksudkan untuk merumuskan rencana dan bahan ajar yang lebih bermakna sesuai dengan perkembangan peserta didik. Ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan analisis kurikulum, aitu sebagai beriut:
Ø  Total waktu yang anda miliki untuk menangani topik-topik utama yang harus diajarkan,
Ø  Asumsi-asumsi yang anda gunakan tentang pengetahuan dan keterampilan awal peserta didik untuk memulai mempelajari topik-topik baru,,
Ø  Tujuan umum belajar yang dirumuskan untuk siswa.

b.  Penyiapan tujuan instraksional,
Pemahaman anda tentang isi pelajaran dan waktu yang tersedia, menjadi landasan bagi pengembangan dan perumusan tujuan pembelajaran. Ada empat tipe tujuan pembelajaran, yaitu:
a)    Tujuan keperilakuan, rumusan tujuan yang ada dalam bentuk perilaku siswa yang dapat diobservasi, diukur, dan diuji bahwa siswa sudah menguasai dengan baik perilaku yang harus dicapai secara khusus.
b)   Tujuan pemecahan masalah, merumuskan pembelajaran siswa dalam proses untuk menggunakan pikiran melalui pengkajian isu yang tidak memiliki pemecahan spesifik.
c)    Tujuan ekspresif, merumuskan pembelajaran siswa kedalam tingkst pengalaman tinggi yang bermakna secara individual apakah sebelumnya sudah diantisipasi atau belum.
d)   Tujuan afektif, ada kesamaan dengan tujuan ekspresif, hanya tujuan afektif lebih terfokus pada respons-respons emosional terhadap kurikulum dan pengajaran. Dalam tatanan paling rendah perilaku afektif direplikasikan dalam bentuk memperlihatkan dan merespons. Dalam kaitannya dengan rumusan tujuan pengajaran untuk memahami perilaku ini biasanya ditambah dengan rumusan “berkemauan untuk”.



c.    Kegiatan yang di arahkan untuk mencapai tujuan,
Secara operasional kegiatan pembelajaran yang tertuang dalam satuan pelajaran diartikan sebagai sejumlah waktu yang dirancang untuk mengajari siswa suatu topik sederhana, bisa berupa konsep, keterampilan, proses, diskusi singkat tentang cerita pendek,atau bagian dari novel. Kata sederhana mengandung arti bahwa setiap satuan arti pembelajaran adalah hanya satu dari rangkaian satuan-satuan pelajaran yang saling terkait dam bekerja sama membantu siswa memahami hal-hal yang lebih kompleks.
Setiap kegiatan pembelajaran dapat dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu:
Ø  Kegiatan Awal
Pada saat anda memperkenalkan topik baru kepada siswa, perlu di ingat bahwa siswa harus dibantu memahami topik itu dalam konteks keseluruhan pengajaran. Bagian pengantar dari satuan pelajaran dapat membantu siswa dalam hal-hal berikut.
a)    Mengaitkan hal-hal yang sudah dipelajari dengan hal baru. Pengatar satuan pengajaran dapat diisi dengan mengaitkan kembali pengetahuan awal dan mengaitkannya dengan informasi baru sehingga pengetahuan awal itu dapat menjadialat yang bermakna bagi proses mengajar baru.
b)   Memberi kesempatan kepada siswa untuk memahami topik secara keseluruhan sebelum mempelajari hal-hal yang terkandung dalam tooik secarc detail.
c)    Menumbuhkan hasrat ingin tahu siswa dan merangsang perhatian danhasrat belajar siswa secara berkelanjutan.
d)   Menyadarkan siswa akan apa yang diharapkan guru dari siswa dalam atau selama pembahasan topik tersebut di samping menyampaikan tujuan pembelajaran.



Ø  Rancangan untuk kegiatan inti pembelajaran
Banyak ragam konsep dan pemikiran tentang bagaimana proses dan kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Kegiatan pembelajaran dikehendaki mampu menumbuhkan dan mengembangkan hal-hal berikut ini:
a)    Mengantarkan siswa kepada informasi atau keterampilan baru.
b)   Mendorong siswa mengkaji ulang atau menafsirkan ulag informasi atau keterampilan yang sudah dipelajari sebelumnya.
c)    Memungkinkan siswa mampu melihat kekurangan dalam proses belajar sebelumnya dan mengisi kekurangan itu.
d)   Mendorong siswa untuk mengembangkan atau memperkuat proses-proses fisik, kognitif, sosial maupun afektif.
e)   Mendorong siswa untuk menghasilkan, mengorganisasikan dan menyatakan informasi baru itu dalam cara-cara kreatif.
f)    Mendorong siswa untuk memperkirakan dan memikirkan gagasan yang belum dikembangkan serta masalah yang belum terpecahkan.
Tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan menjadi panduan bagi anda dalam memikirkan keseluruhan proses pembelelajaran, memutuskan hasil yang paling penting yang harus dicapai, mengaitkan tujuan pembelajaran dengan tujuan kurikulu.
Ø  Kegiatan Penutup
Pada kegiatan penutup, guru membimbing siswa untuk merumuskan ikhtisar yang bertujan untuk:
a)    Mengkaji ulang butir-butir penting dari isi kegiatan pembelajaran.
b)   Memungkinkan siswa merefleksikan pembelajaran dan menggambarkan kumpulan dari pengalaman pembelajaran.
c)    Memberikan gambaran tentang pembelajaran yang akan datang.


d.  Perencanaan evaluasi.
Salah satu koponen penting dari keseluruhan perencanaan pembelajaran adalah perencanaan untuk mengetahui apakah setelah kurun waktu tertentu siswa anda memperoleh kemajuan sesuai engan tujuan yang telah ditetapkan atau apakah siswa anda siap mencapai tujuan yang lebih kompleks. Tujuan-tujuan yang sudah dirumuskan baik tujuan keperilakuan, sampai dengan kemajuan siswa semua kegiatan evaluasi ini disebut evaluasi sumatif, yaitu evaluasi yang merangkum seluruh hasil belajar siswa pada jangka waktu tertentu.
Evaluasi lain yang perlu dirancang adalah evaluasi formatif. Evaluasi ini dimaksudkan untuk melihat kemajuan siswa pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Evaluasi sumatif maupun formatif harus dirancang secara konsisten dengan tujuan yang sudah ditetapkan.
3)  Rancangan unit pembelajaran.
Misalkan anda guru kela lima dan akan mengajarkan kesusastraan Indonesia dengan tema roman. Anda tentu mempunyai banyak topik yang ingin diajarkan dan dikuasai oleh siswa. Tentunya siswa tidak mungkin menguasai seluruh tujuan yang berkaitan dengan topik-topik itu dalam satu hari. Jika anda tidak merancang dengan cermat satuan-satuan elajaran, unit akan menjadi bacaan dan tulisan yang kurang bermakna. Dalam kaitan dengan rancangan pembelajaran, anda perlu membedakan tujuan unit dan tujuan satuanpelajaran. Tujuan unit akan mencakup beberapa minggu kegiatan dan satuan pelajaran sebelum siswa dapat menguasai keseluruhannya. Satuan-satuan pelajaran akan terbangun dalam suatu kesatuan yang tertata kedalam suatu unit yang kohesif.
Setelah satuan-satuan pelajaran itu ditata, hal penting yang perlu dicek ulang ialah konsistensi antara tujuan, kegiatan, dan evaluasi. Penting juga untuk dilakukan pengecekan konsistensi silang antar satuan pelajaran untuk meyakinkan bahwa satuan-satuan pelajaran yang sudah dirancang itu memungkinkan siswa mencapai tujuan unit.

3.  Peran guru dalam pelaksanaan pembelajaran dan manajemen kelas
Dalam suatu kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah, selalu terjadi proses.
pembelajaran di dalamnya. Proses pembelajaran sendiri dapat diartikan sebagai proses  membantu siswa belajar, yang ditandai dengan perubahan perilaku pada diri siswa baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Guru harus mempunyai gambaran yang jelas tentang tugas-tugas yang harus dilakukan didalam kegiatan pembelajaran, kejelasan tugas ini dapat memotivasi guru untuk berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran dan mereka merasa ikut bertanggung jawab atas terlaksananya kegiatan tersebut. Ada hubungan fungsional antara perbuatan guru mengajar dengan perubahan perilaku peserta didik. Perilaku guru dapat mempengaruhi keberhasilan belajar,  misalnya guru yang bersifat otoriter akan menimbulkan suasana tegang, hubungan guru dengan siswa menjadi kaku, keterbukaan siswa untuk mengemukakan kesulitan –kesulitan sehubungan dengan pelajaran itu menjadi terbatas, dan sebagainya. Artinya, proses pembelajaran itu memberikan dampak kepada perkembangan peserta didik. Dampak pembelajaran dapat dibedakan kedalam dampak langsung atau dampak intruksional dan dampak tak langsung atau dampak pengiring. Dampak langsung adalah dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan pembelajaran yang telah diprogramkan semula, sedangkan dampak pengiring muncul dari pengaruh dari atau terjadi pengalaman dari lingkungan belajar. Dampak pengiring adalah sesuatu yang bisa terjadi kearah positif maupun negative. Dampak pengiring pada suatu proses pembelajaran bisa menjadi dampak intruksional dari proses pembelajaran yang lain. Sehingga dampak intruksional dan dampak pengiring akan menjadi satu keterpaduan , kondisi ini merupakan gambaran perilaku efektif dari proses perkembangan peserta didik. Tampak jelas bahwa pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang tidak semata-mata memberikan dampak intruksional tapi juga memberikan dampak pengiring positif. Untuk proses pembelajaran yang efektif diperlukannya menejemen tersendiri yaitu menejemen kelas.
Menejemen kelas merupakan perangkat perilaku yang kompleks dimana guru menggunakannya untuk mengembangkan dan memelihara kondisi kelas yang memungkinkan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran secara efisien. Dengan kata lain, menejemen kelas yang efektif menjadi prasyarat utama bagi pembelajaran yang efektif, menejemen kelas dapat dipandang sebagai tugas guru yang amat fundamental.
Tidak ada satu pendekatan pun yang dianggap sebagai pendekatan terbaik dalam management kelas. Oleh karena itu, seorang guru perlu memahami berbagai pendekatan , yang secara ringkas akan diuraikan sebagai berikut :

1)    Pendekatan otoriter
Pendekatan ini memendang bahwa menejemen kelas adalah proses mengendalikan perilaku peserta didik dalam posisi ini, peranan guru adalah mengembangkan dan memelihara aturan atau disiplin didalam kelas.didalam pendekatan ini, disiplin sama dengan menejemen kelas.
2)   Pendekatan intimidasi
Pendekatan ini juga memandang menejemen kelas sebagai proses mengendalikan perilaku peserta didik hanya saja pada pendekatan ini tampak lebih dilandasi oleh asumsi bahwa perilaku peserta didik paling baik dikendalikan oleh perilaku buruk. Peran guru disini adalah menggiring peserta didik berperilaku sesuai dengan keinginan guru sehingga meteka merasa takut untuk melanggaranya.
3)   Pendekatan permisif
Pendekatan ini bertentangan langsung dengan pendekatan intimidatif. Esensi pendekatan terletak pada peran guru memaksimalkan kebebasan peserta didik, membantu peserta didik bebas melakukan apa yang mereka mau. Jika hal itu tidak dilakukan maka yang terjadi adalah proses menghambat perkembangan peserta didik.
4)   Pendekatan buku masak
Pendekatan ini tidak didasarkan atas konsep teoritis atau landasan psikologis tertentu. Pendekatan ini merupakan kombinasi dari berbagai pandangan dan merupakan himpunan resep bagi guru. Pedekatan ini disebut pendekatan buku masak karena berisikan rakitan daftar tahap apa yang harus dilakukan guru dan tidakdilakukan guru didalam bereaksi atas berbagai situasi bermasalah, dan peran guru adalah mengikuti peran itu.
5)   Pendekatan instruksional
Pendekatan ini didasarkan pada suatu keyakinan bahwa perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang cermat ( carefull ) akan mencegah muncul prilaku bermasalah. Pendekatan ini menekankan bahwa perilaku guru dalam pembelajaran ialah mencegah atau menghentikan perilaku peserta didik yang tidak tepat.
6)   Pendekatan modifikasi perilaku
Pendekatan ini memendan manajemen kelas sebagai proses modifikasi perilaku peserta didik. Peran guru adalah mempercapat tercapainya perilaku yang dikehendaki dan mengurangi atau menkankan perilaku yang baik dikehendaki. Dengan kata lain, guru membantu peserta didik mempelajari perilaku yang tepat dengan menggunakan prinsip – prinsip pengkondisian dan penguatan.
7)   Pendekatan sosio emosional
Pendekatan ini memangdang manajemen kelas sebagai proses menciptakan iklim sosio– emosional yang positif didalam kelas, peran guru disini adalah mengembangkan iklim sosio emosional kelas yang positif melalui pengembangan hubunga antar pribadi yang sehat. Dalam pendekatan ini juga terkandung peran guru sebagai fasilitator dan motifator bagi peserta didik untuk lebih berkembang dengan optimal.
8)   Pendekatan kelompok
Dalam pendekatan ini menempatkan kelas sebagai suatu sistem social dimana proses kelompok dalam sistem tersebut menjadi hal penting yang paling utama, asumsi dasarnya ialah bahwa pembelajaran itu terjadi didalam kelompok olehkarena itu, hakekat dan perilaku kelompok kelas dipandang sebagai faktor yang memiliki pengaruh berarti (signifikan) terhadap belajar, bahkan dalam proses belajar indifidual sekalipun. Peran guru ialah mempercepat perkembangan dan terwujudnya kelompok kelas yang efektif.
9)   Pendekatan pluralistic ( james M. cooper ed, 1990 )
Pendekatan jamak / pluralistic ini tidak mengikat guru kepada strategi managerial tunggal melainkan member peluang kepada guru untuk mempertimbangkan seluruh strategi yang dapat dan tepat dilakukan, defenisi managemen kelas yang merefeksikan kejamakan pendekatan itu, kiranya dapat dirumuskan sebagai perangkat kegiatan dimana guru mengembangkan dan memelihara kondisi kelas yang dapat mendorong terjadinya pembelajaran yang efektif dan efisien. Brophy putnan ( good dan brophy 1990 ) menyebutnya
sebagai pendekatan optimal yaitu sebagi proses pengembangan lingkungan belajar yang dikehendaki dan menekankan sekecil mungkin pembatasan – pembatasan.
4.  Peran guru dalam evaluasi
a.  Definisi dan Tahapan evaluasi
Evaluasi atau penilaian merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan serta variable lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan  dengan setiap segi penilaian, karena penilaian merupakan proses penetapan kualitas hasil belajar, atau proses untuk menentukan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran oleh peserta didik.
Sebagai evaluator, guru dituntut untuk menjadi seorang evaluator yang baik dan jujur, dengan memberikan penilaian yang menyentuh aspek ekstrinsik dan intrinsic. Penilaian terhadap aspek intrinsic lebih menyentuh pada aspek kepribadian anak didik, yakni aspek nilai (values). Berdasarkan hal ini, guru harus bisa memberikan penilaian dalam dimensi yang luas. Penilaian terhadap kepribadian anak didik tentu lebih diutamakan daripada penilaian terhadap jawaban anak didik ketika diberikan tes. Anak didik yang berprestasi belum tentu memiliki kepribadian yang baik. Jadi, penilaian itu pada hakikatnya diarahkan pada perubahan kepribadaian anak didik agar menjadi manusia yang cakap.
Sebagai evaluator, guru tidak hanya menilai produk (hasil pengajaran) tetapi juga nilai proses (jalannya pengajaran). Dari kedua kegiatan ini akan mendapatkan umpan balik (feedback) tentang pelaksanaan interaksi edukatif yang telah dilakukan.
Rumusan sederhana tentang mengevaluasi adalah menempatkan sesuatu nilai atas dasar timbangan ( judgment ) . Menimbang bukanlah sesuatu yang independen, melainkan atas informasi-informasi yang merupakan prasyarat untuk mengambil keputusan. Jadi evaluasi dapat dirumuskan sebagai proses memperoleh informasi dan menggunakanya judgment yang pada akhirnya digunakan untuk mengabil keputusan.
Ada empat  tahap dalam evaluasi yaitu ;
A.   Tahap persiapan, menentukan jenis informasi yang diperlukandan memutuskan bagaimana dan kapan informasi itu di peroleh;
B.    Tahap pengumpulan informasi , memperoleh informasi sebanyak mungkin;
C.    Tahap membentuk Judgment  dibuat dengan membandingkan informasi terhadap kriteria terpilih; dan
D.   Tahap mengambil keputusan dan pelaporan, mencatat temuan penting daln menemukan rencana.
b.  Memilih tekhnik dalam evaluasi
Untuk memilih tekhnik yang tepat dalam evaluasi, ada dua tahap yang perlu ditempuh yaitu;
1)    Memilih Tehnik yang tepat
Ada empat tehnik yang bisa digunakan guru untuk memperoleh informasi
tentang dirinya dan siswa yaitu : inkuiri ; observasi,analisis dan testing.
Ø  Inkuiri adalah bertanya, jika kita ingin tahu pendapat,perasaandan kegemaran seseorang tanyakan pada orang itu.
Ø  Observasi dibuat guru mana kala dia melihat,merasakan, mendengarkan atau menggunakan sebagai penginderaan untuk mengetahui berbagai hal yang terjadi di kelas
Ø  Analisis adalah proses memecah dan memilah sesuatu kedalam bagian-bagian. 
Ø  Testing digunakan pada saat ada situasi umum dimana semua siswa merespon ada petunjuk umum tentang bagai mana siswa memberikan respon serta ada aturan umum dalam pemberian nilaidan deskripsi unjuk kerja siswa.
2)   Memilih Instrumen yang Paling Baik
Instrumen adalah alat yang digunakan untuk membantu kita mengumpulkan informasi. Ada empat tipe alat pengumpulan data yaitu : tes,daftar cek,skala penilaian dan kuisioner
Ø  Tes adalah alat yang menyajikan situasi umum dimana semua siswa merespons, ada petunjuk umum, dan aturan umum penskoran jawaban siswa
Ø  Daftar cek pada dasarnya adalah daftar kriteria atau ’’ sesuatu untuk mencari ’’ untuk menilai hasil kinerja atau hasil akhir.
Ø  Skala penilaian sama halnya dengan daftar cek yang dilengkapi dengan skala nilai seperti,Baik, Cukup, Kurang dan sebagainya
Ø  Kuisioner berguna untuk mengumpulkan pendapat , perasaan dan minat.

c.   Menulis butir soal yang efektif
Butir soal untuk mengukur hasil belajar harus dikembangkan atas dasar tujuan Instruksional.
a)    Butir soal uraian
Bentuk soal uraian atau lazim pula disebut tes esai adalah sesuatu bentuk soal yang harus dipecahkan siswa dengan memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk mengemukakan berbagai pendapat dan analisnya terhadap soal tersebut.
     Di dalam menyusun soal uraian guru hendaknya memperhatikan persyaratan-persyaratan berikut:
1.     Rumuskanlah setiap butir soal secara jelas dan spesifik
2.    Pertimbangkanlah/pilihlah topik-topik pokok yang diujikan, sehingga soal yangdisajikan cukup mewakili keseluruhan materi yang akan dinilai
3.    Setiap butir soal hendaknya berisi satu persoalan
4.    Dalam rumusan soal hendaknya sudah tersirat tentang kemungkinan jawaban yang diminta.
Agar rumusan soal uraian tidak menimbulkan berbagai tafsiran, perlu dilakukan perbaikan dengan memfokuskan rumusan soal untuk mengukur kecakapan-kecakapan berikut:
1.     Memecahkan masalah
2.    Menganalisis
3.    Memperbandingkan
4.    Mengkritik
5.    Memberi contoh
6.    Menyimpulkan
7.    Menyatakan maksud
8.    Menjelaskan sebab akibat
9.    Menyatakan hubungan

b)   Butir soal jamak
Soal pilihan jamak hendaknya disusun dengan memperhatikan kriteria sebagai berikut;
1.     Menyajikan masalah atau pertanyaan tunggal
2.    Mengukur hasil belajar yang dapat diuji dengan memilih jawaban benar atau paling benar diantara alternatif yang disediakan
3.    Alternatif jawaban dirumuskan secara homogen dalam hal rumusan kata, penulisan, panjang kalimat dan sebagainya
4.    Alternatif mengikuti logika dan keabsahan yang berkesinambungan dengan stem
5.    Alternatif mengandung distraktor
c)    Butir soal menjodohkan
          Soal menjodohkan biasanya digunakan untuk menguji hubungan seperti:
1.     Istilah dan definisinya
2.    Peristiwa sejarah dan waktu
3.    Alat dan kegunaannya
4.    Masalah dan pemecahannya
5.    Elemen dan simbolnya
6.    Penyebab dan akibatnya
7.    Gambar dan tafsirannya


Beberepa persyaratan yang harus dipertimbangkan dalam menulis soal menjodohkan adalah sebagai berikut;
1.     Hubungan antara dua hal yang diukur harus tampak dalam kedua daftar
2.    Dasar untuk menentukan penjodohan harus jelas
3.    Jumlah alternatif harus lebih banyak dari jumlah soal, sekitar 50%
4.    Daftar yang lebih pendek sebaiknya tidak lebih dari tujuh atau delapan butir

d.  Mengolah hasil pengukuran
1.  Evaluasi formatif
Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dimaksudkan untuk mengetahui keberhasilan proses mengajar di dalam mencapai tujuan instruksional yang sudah ditetapkan. Oleh karena itu, evaluasi formatif ini bermaksud pula mengetahui seberapa jauh tujuan-tujuan instruksional tersebut sudah dicapai siswa. Evaluasi formatif dimaksudkan pula untuk menilai keberhasilan proses mengajar dan melakukan perbaikan terhadap proses belajar mengajar. Di dalam evaluasi formatif , soal tes harus berdasarkan kepada tujuan instruksional khusus (TIK) yang sudah dirumuskan di awal satuan pelajaran. Pengolahan data hasil evaluasi formatif berkaitan dengan penggunaan standar mutlak. Biasanya sudah ditetapkan standar minimal yang harus dicapai oleh siswa secara individual. Biasanya digunakan standar mutlak 100% sebagai bahan pembanding terhadap jumlah presentase yang dicapai.
2.  Penggunaan hasil penilaian formatif
          Hasil penilaian formatif digunakan untuk:
a.    Menetapkan apakah proses mengajar tersebut diulangi atau bisa dilanjutkan dengan satuan pelajaran lainnya
b.    Merumuskan aspek apa yang perlu dijelaskan kembali kepada murid
c.    Digunakan sebagai bahan pertimbangan di dalam membantu menentukan nilai murid pada penilaian sumatif.
3. Evaluasi Sumatif
Penilaian sumatif berfungsi untuk mengetahui tingkat keberhasilan murid di dalam belajar. Dengan kegiatan penilaian sumatif, guru dapat menggolongkan murid kepada kelompok rendah, rata-rata dan tinggi, sesuai dengan posisi yang diduduki di dalam kelompoknya. Hasil evaluasi sumatif dinyatakan dalam grading seperti skala 0-10; A, B, C, D; 0-100. Penilaian sumatif ini mempunyai ruang lingkup yang lebih luas daripada penilaian formatif. Dengan demikian, guru tidak mungkin membuat soal berdasarkan seluruh TIK yang sudah dirumuskan pada satuan pelajaran. Dalam tes sumatif disusun berdasarkan tujuan instruksional Umum dan Pokok-pokok bahasan yang penting. Maksudnya adalah soal tersebut harus mewakili seluruh materi pelajaran yang terdapat dalam seluruh satuan pelajaran dari program pengajaran tersebut. Di dalam penilaian sumatif, aspek tingkah laku yang dinilai meliputi pengetahuan, keterampilan dan mungkin pada aspek sikap.












BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Pembelajaran adalah upaya pendidik untuk membantu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Dengan perkataan lain bahwa istilah pembelajaran dapat diberi arti sebagai kegiatan sistematik dan sengaja dilakukan oleh pendidik untuk membantu peserta didik agar tercapai tujuan pembelajaran. di dalam pembelajaran pendidik berperan penting dalam menfasilitasi perkembangan peserta didik, dikarenakan pendidiklah yang bersinggungan langsung dengan objek pembelajaran (peserta didik). Dalam hal ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pendidik. Berdasarkan rumusan masalah, pembahasan dan tujuan beserta manfaatnya dapat di tarik beberapa kesimpulan, sebagai berikut:
1.     Peranan  guru akan senantiasa menggambarkan pola tingkah laku yang diharapkan dalam berbagai interaksinya, baik dengan siswa (yang terutama), sesama guru, maupun mengajar, dapat dipandang sebagai sentral bagi peranannya. Sebab baik disadari atau tidak bahwa sebagian dari waktu dan perhatian guru banyak dicurahkan untuk menggarap proses belajar mengajar dan berinteraksi dengan siswanya.
2.    Peran guru dalam proses pembelajaran adalah guru sebagai pendidik, guru sebagai pengajar dan fasilitator,sebagai pelatih (coach), pembimbing (counselor), dan manajer belajar (learning manager).
Evaluasi pembelajaran adalah proses untuk menentukan nilai pembelajaran yang dilaksanakan, dengan melalui kegiatan pengukuran dan penilaian pembealajaran. Pengukuran yang dimaksud di sini adalah proses membandingkan tingkat keberhasilan pembelajaran dengan ukuran keberhasilan pembelajaran yang telah ditentukan secara kuantitatif, sedangkan penilaian yang dimaksud di sini adalah proses pembuatan keputusan nilai keberhasilan pembelajaran secara kualitatif. Evaluasi merupakan sarana untuk mendapatkan informasi yang diperoleh dari proses pengumpulan dan pengolahan data.
Terdapat beberapa teknik, jenis-jenis, dan syarat-syarat penyusunan evaluasi pembelajaran yang dapat di lakukan dan diperhatikan oleh pendidik dalam melakukan evaluasi pembelajaran.

B.  Saran
Dari makalah kami yang singkat ini mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua umumnya kami pribadi. Yang baik datangnya dari Allah, dan yang buruk datangnya dari kami. Dan kami sedar bahwa makalah kami ini jauh dari kata sempurna, masih banyak kesalahan dari berbagai sisi, jadi kami harafkan saran dan kritik nya yang bersifat membangun, untuk perbaikan makalah-makalah selanjutnya.















DAFTAR PUSTAKA

Hareflen, Zendro. “Peran Guru dalam Pengembangan Rancangan Pembelajaran”.
04 Februari 2014. http://zendrohareflen.blogspot.co.id/2014/02/peran-guru-dalam-pengembangan-rancangan.html.
Husein, Latifah. Profesi Keguruan Menjadi Guru Profesional. Banjarmasin:
Pustaka Baru Press, 2016
Kidam, Jubaida.” Peran Guru Dalam Pendidikan”
Pakpahan, Hendra. “ Peran Guru dalam Membantu Perkembanagan Murid”
Paramesti, Winda Natasya. Peran Guru dalam Pelaksanaan Pembelajaran dan
Rahman Muhammad & Sofan Amri. Kode Etik Profesi Guru. Jakarta: Prestasi
Pustaka Jakarta, 2014.
Rudi, Fedelis. “Peranan Guru dalam Evaluasi Pembelajaran”. 14 Mei 2014.
Soetjipto & Raflis Kosasi, Profesi Keguruan. Jakarta: Rineka Cipta, 1994



Komentar

  1. The Best Casino in India (2021) | EcoFriendly.com
    Explore The 수 있습니다 Best 사설토토사이트 Casino in India (2021) · Casino is the one with the best and fastest payouts on 먹튀검증사이트 the market · 승인전화없는 토토사이트 Best Live and Mobile Slots · Casino Games · 마카오바카라 Live

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer